Selasa, 25 Oktober 2011

Askep kecemasan

selasa, 24 2011

ASKEP KECEMASAN

BAB I
PENDAHULUAN


Kecemasan atau ansieti merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkaitan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu,biasanya dengan objek ancaman yang begitu tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas nilai ancaman yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi,tetapi apabila intensitasnya begitu kuat dan bersifat negatif justru akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan.
Kecemasan dapat dialami oleh siapapun dan dimanapun serta kapanpun tergantung dari faktor pencetus dari kecemasan tersebut. Fakta membuktikan bahwa diseluruh lapisan dunia kecemasan paling banyak terjadi setiap harinya.hal ini disebabkan semakin kongkretnya masalah yang terjadi saat ini.
Dinegara maju,gangguan jiwa berupa ansietas atau kecemasan menempati posisi pertama dibandingkan dengan kasus lain.oleh karena itu sebagai seorang perawat,kita harus benar-benar kritis dalam menghadapi kasus kecemasan yang terjadi.







BAB II
KONSEP DASAR
A. Pengertian
Kecemasan atau ansietas adalah reaksi emosional terhadap penilaian individu yang subjektif,yang dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya.
Kecemasan atau ansietas adalah istilah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari yang menggambarkan keadaan khawatir,gelisah yang tidak menentu,takut,tidak tenteram,kadang-kadang disertai berbagai keluhan fisik.

B. Tingkat kecemasan
Beberapa teori membagi ansietas menjadi empat tingkat :
a. Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan lahan persepsinya meningkat. Kecemasan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
b. Ansietas sedang
Pada tingkat ini lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dan mengesampingkan hal yang lain.
c. Ansietas berat
Pada ansietas berat lapangan persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderung memikirkan hal yang sangat kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir realistis dan membutuhkan banyak pengarahan,untuk dapat memusatkan pada daerah lain.
d. Panik
Pada tingkatan ini lahan persepsi sudah sangat sempit,sehingga individu tidak dapat lagi mengendalikan diri dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah diberi pengarahan/tuntutan. Pada keadaan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik,menurunnya kemampuan berhubungan dengan orang laindan kehilangan pemikiran yang rasional.





C. Rentang respon ansietas atau kecemasan
Rentang respon ansietas atau kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladptif ,seperti terlihat pada gambar berikut.
























BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Faktor peredisposisi
Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab ansietas adalah :
a. Teori psikoanalitik
Ansietas merupakan konsep emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian –ad dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitive seseorang,sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego atau Aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua element yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
b. Teori interpersonal
Ansietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal.hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa perkembangan seperti kehilangan,perpisahan menyebabkan seseorang tidak berdaya. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami ansietas yang berat.
c. Teori prilaku
Prilaku kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang menggangu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
d. Kajian keluarga
Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasanya ditemui dalam suatu keluarga.
e. Kajian biologis
Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor spesifik untuk benzodiazepines.reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas.

2. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi pada gangguan ansietas berasal dari sumber eksternal dan internal seperti dibawah ini :
a. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
b. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas,harga diri,dan integrasi fungsi sosial.

3. Perilaku
Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologi dan perilaku dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping dalam upaya melawan kecemasan. Intensietas perilaku akan meningkat sejalan dengan peningkatan tingkat kecemasan.

Tabel I.Respon fisiologis terhadap ansietas.

Sistem Respon
Kardivaskuler • Palpitasi
• Jantung berdebar
• Tekanan darah meningkat dan denyut nadi menurun
• Rasa mau pingsan dan pada akhirnya pingsan
Saluran pernapasan • Napas epat
• Pernapasan dangkal
• Rasa tertekan pada dada
• Pembengkakan pada
Tenggorokan
• Rasa tercekik
• Terengah-engah
Neuromuskuler • Peningkatan reflek
• Reaksi kejutan
• Insomnia
• Ketakutan
• Gelisah
• Wajah tegang
• Kelemahan secara umum
• Gerakan lambat
• Gerakan yang janggal
Gastrointestinal • Kehilangan nafsu makan
• Menolak makn
• Perasaan dangkal
• Rasa tidak nyaman pada abdominal
• Rasa terbakar pada jantung
• Nausea
• Diare
Saluran kemih • Tidak dapat menahan kencing
• Sering kencing
Sistem kulit • Rasa terbakar pada mukosa
• Berkeringat banyak pada
Telapak tangan
• Gatal-gatal
• Perasaan panas atau dingin pada kulit
• Muka pucat dan bekeringat
Diseluruh tubuh

Tabel II.Respon prilaku kognitif
Sistem Respon
Perilaku • Gelisah
• Ketegangan fisik
• Tremor
• Gugup
• Bicara cepat
• Tidak ada koordinasi
• Kecenderungan untuk celaka
• Menarik diri
• Menghindar
• Terhambat melakukan aktifitas
Kognitif • Gangguan perhatian
• Konsentrasi hilang
• Pelupa
• Salah tafsir
• Adanya bloking pada pikiran
• Menurunnya lahan persepsi
• Kreatif dan produktif menurun
• Bingung
• Khawatir yang berlebihan
• Hilang menilai objektifitas
• Takut akan kehilangan kendali
• Takut yang berlebihan
Afektif • Mudah terganggu
• Tidak sabar
• Gelisah
• Tegang
• Nerveus
• Ketakutan
• Alarm
• Tremor
• Gugup
• Gelisah

4. Mekanisme koping
Ketika mengalami ansietas,individu menggunakan berbagai mekanisme koping untuk mencoba mengatasinya,dan ketidakmampuan mengatasi ansietas secara kontruktif merupakan penyebab utama terjadinya prilaku patologis,yang mengancam ego. Dimana individu menggunakan energi yang lebih besar untuk mengatasi ancaman tersebut.
Ada dua mekanisme koping yang dikategorikan untuk mengatasi ansietas:
1. Reaksi yang berorientasi pada tugas(task oriented reaction)
Merupakan pemecahan masalah secara sadar digunakan untuk menanggulangi ancaman stressor yang ada secara realistis,yaitu
a. Perilaku menyerang(agresif)
Biasanya digunakan individu untuk mengatasi rintangan agar memenuhi kebutuhan.
b. Perilaku menarik diri
Digunakan untuk menghilangkan sumber ancaman baik secara fisik maupun secara psikologis
c. Perilaku kompromi
Digunakan untuk mengubah tujuan-tujuan yang akan dilakukan atau mmengorbankan kebutuhan personal untuk mencapai tujuan.
2. Mekanisme pertahanan ego (ego oriented reaction)
Mekanisme pertahanan Ego membantu mengatasi ansietas ringan maupun sedang yang digunakan untuk melindungi diri dan dilakukan secara tidak sadar untuk mempertahankan ketidakseimbangan.
Adapun mekanisme pertahanan Ego adalah :
a. Kompensasi
Adalah proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas menonjolkan keistimewaan/kelebihan yang dimilikinya.



b. Penyangkalan (denial)
Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini paling sederhana dan primitif.
c. Pemindahan(displacemen)
Pengalihan emosi yag semula ditujukan pada seseorang/benda tertentu yang biasanya netral atau kurang mengancam terhadap dirinya.
d. Disosiasi
Pemisahan dari setiap proses mental atau prilaku dari kesadaran atau identitasnya.
e. Identifikasi(identification)
Proses dimana seseorang mencoba menjadi orang yang ia kagumi dengan mengambil/menirukan pikiran-pikiran,prilaku dan selera orang tersebut.
f. Intelektualisasi(intelektualization)
Penggunaan logika dan alasan yang berlebihan untuk memghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya.
g. Introjeksi(intrijection)
Mengikuti norma-norma dari luar sehingga ego tidak lagi terganggu oleh ancaman dari luar(pembentukan superego)
h. Fiksasi
Berhenti pada tingkat perkembangan salah satu aspek tertentu(emosi atau tingkah laku atau pikiran)sehingga perkembangan selanjutnya terhalang.
i. Proyeksi
Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan. Perasaan emosional dan motivasi tidak dapat ditoleransi.
j. Rasionalisasi
Memberi keterangan bahwa sikap/tingkah lakunya menurut alasan yang seolah-olah rasional,sehingga tidak menjatuhkan harga diri.
k. Reaksi foemasi
Bertingkah laku yang berlebihan yang langsung bertentangan dengan keinginan-keinginan,perasaan yang sebenarnya.



l. Regressi
Kembali ketingkat perkembangan terdahulu(tingkah laku yang primitif),contoh; bila keinginan terhambat menjadi marah,merusak,melempar barang,meraung,ds.
m. Represi
Secara tidak sadar mengesampingkan pikiran,impuls,atau ingatan yang menyakitkan atau bertentangan,merupakan pertahanan ego yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme ego yang lainnya.
n. Acting out
Langsung mencetuskan perasaan bila keinginannya terhalang
o. Sublimasi
Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam penyalurannya secara normal.
p. Supresi.
Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi sebetulnya merupakan analog represi yang disadari;pengesampingan yang disengaja tentang suatu bahan dari kesadaran seseorang;kadang-kadang dapat mengarah pada represif berikutnya.
q. Undoing
Tindakan/prilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan/prilaku atau komunikasi sebelumnya merupakan mekanisme pertahanan primitif.

B. Diagnosa
Adapun diagnosa yang biasanya muncul pada kecemasan adalah :
1. Penyelesaian kerusakan
2. Kecemasan
3. Pola napas tidak efektif
4. Koping individu tidak efektif
5. Diam
6. Gangguan pembagian bidang energi
7. Ketakutan
8. Inkontinensial
9. Stres
10. Cedera resiko terhadap......
11. Perubahan nutrisi
12. Respon pasca trauma
13. Ketidakberdayaan
14. Gangguan harga diri
15. Gangguan pola tidur
16. Isolasi sosial
17. Perubahan proses berfikir
18. Gangguan eliminasi urine

C. Intervensi
Tujuan umum : Klien akan mengurangi ansietasnya dari tingkat ringan hingga panik.
Tujuan khusus :
Klien mampu :
• Membina hubungan saling percaya
• Melakukan aktifitas sehari-hari
• Mengekspresikan dan mengidentifikasi tentang kecemasannya
• Mengidentifikasi situasi yang menyebabkan ansietas
• Meningkatkan kesehatan fisik dan kesejahteraannya
• Klien terlindung dari bahaya.
1. Ansietas ringan
Deskripsi Batasan karakter Intervensi
Ansietas ringan adalah ansietas normal dimana motivasi individu pada keseharian dalam batas kemampuan untuk melakukan dan memecahkan masalah meningkat. - Tidak nyaman
- Gelisah
- Insomnia ringan
- Perubahan nafsu makan ringan
- Peka
- Pengulangan pertanyaan
- Prilaku mencari perhatian
- Peningkatan kewaspadaan
- Peningkatan persepsi pemecahan masalah
- Mudah marah
- Fokus pada masalah masa dating
- Gerakan tidak tenang - Perhatikan tanda peningkatan ansietas
- Bantu klien menyalurkan energi secara konstruktif
- Gunakan obat bila perlu
- Dorong pemecahan masalah
- Berikan informasi akurat dan fuktual
- Sadari penggunaan mekanisme pertahanan
- Bantu dalam mengidentifikasi keterampilan koping yang berhasil
- Pertahankan cara yang tenang dan tidak terburu
- Ajarkan latihan dan tehnik relaksasi



2. Ansietas sedang
Deskripsi Batasan karakter Intervensi
Ansietas sedang adalah cemas yang mempengaruhi pengetahuan baru dengan penyempitan lapangan persepsi sehngga individu kehilangan pegangan tetapi dapat mengikuti pengarahan orang lain. - Perkembangan dari ansietas ringan
- Perhatian terpilih dari lingkungan
- Konsentrasi hanya pada tugas-tugs individu
- Suara bergetar
- Ketidaknyamanan jumlah waktu yang digunakan
- Takipnea
- Takikardia
- Perubahan dalam nada suara
- Gemetaran
- Peningkatan ketegangan otot
- Menggigit kuku,memukul-mukulkan jari,menggoyangkan kaki dan mengetukkan jari kaki - Pertahankan sikap tidak tergesa-gesa,tenang bila berurusan dengan pasien
- Bicara dengan sikap tenang,tegas meyakinkan
- Gunakan kalimat yang pendek dan sederhana
- Hindari menjadi cemas,marah,dan melawan
- Dengarkan pasien
- Berikan kontak fisik dengan menyentuh lengan dan tangan pasien
- Anjurkan pasien menggunakan tehnik relaksasi
- Ajak pasien untuk mengungkapkan perasaannya
- Bantu pasien mengenali dan menamai ansietasnya


3. Ansietas berat
Deskripsi Batasan karakter Intervensi
Pada ansietas berat lapangan persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderung memikirkan hal yang sangat kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir realistis dan membutuhkan banyak pengarahan,untuk dapat memusatkan pada daerah lain.
- Perasaan terancam
- Ketegangan otot yang berlebihan
- Diaforesis
- Perubahan pernapasan
- Napas panjang
- Hiperventilasi
- Dispnea
- Pusing
- Perubahan gastrointestinalis
- Mual muntah
- Rasa terbakar pada ulu hati
- Sendawa
- Anoreksia
- Diare atau konstipasi
- Perubahan kardivaskuler
- Takikardia
- Palpitasi
- Rasa tidak nyaman pada prekokardia
- Berkurangnya jarak persepsi secara berat
- Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi
- Rasa terbakar
- Kesulitan dan ketidaktepatan pengungkapan
- Aktivitas yang tidak berguna
- Bermusuhan - Isolasi pasien dalam lingkungan yang aman dan tenang
- Biarkan perawatan dan kontak sering sampai konstan
- Berikan obat-obatan pasien melakukan hal untuk dirinya sendiri
- Observasi adanya tanda-tanda peningkatan agitasi
- Jangan mennyentuh pasien tanpa permisi
- Yakinkan pasien bahwa dia aman
- Kaji keamanan dalam lingkungan sekitarnya.

4. Panik
Deskripsi Batasan karakter Intervensi
Mengungkapkan sampai tingkat dimana individu berada pada bahaya terhadap diri sendiri dan orang lain serta dapat menjadi diam atau menyerang dengan cara kacau. - Hiperaktif atau imobilitasi berat
- Rasa terisolasi yang ekstrim
- Kehilangan desintegrasi kepribadian
- Sangat goncang dan otot-otot tegang
- Ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan kalimat yang lengkap
- Distori persepsi dan penilaian yang tidak realistis terhadap lingkungan dan ancaman
- Perilaku kacau dalam usaha melarikan diri
- Menyerang - Tetap bersam pasien;minta bantuan
- Jika mungkin hilangkan beberapa stressor fisik dan psikologisdari lingkungan
- Bicara dengan tenang,sikap meyakinkan,menggunakan nada suara yang rendah
- Katakan pada pasien bahwa nada (staf) tidak akan membahayakan dirinya sendiri atau orang lain
- Isolasikan pasien pada daerah yang aman dan nyaman
- Lanjut dengan perawatan ansietas berat.

D. Implementasi
Pelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dengan menggunakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien. Dalam melaksanakan keperawatan, haruslah dilibatkan tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan dengan pelayanan keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah sakit.

E .Evaluasi
Ansietas ringan :
a. Pasien mampu menggunakan koping secara efektif untuk mengatasi ancaman potensial atau aktual
b. Pasien mampu meningkatkan pengetahuan tentang situasi diri
c. Pasien melaporkan peningkatan harga diri
Ansietas sedang :
a. Pasien menerima ancaman secra realitas
b. Pasien mengekspresikan berkurangnya tingkat ansietas
Ansietas berat :
a. Pasien mengungkapkan penurunan prilaku,afektif,gejala fisiologis dari ansietas.
b. Pasien mampu mendemonstrasikan kemampuan untuk konsentrasi dan mengikuti dengan bantuan terhadap lingkungan sekitar.
c. Menggunakan strategis koping untuk mengurangi ansietas.
d. Menggunakan pikiran persepsi dan ansietas terlebih dahulu.
Panik :
a. Pasien tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.
b. Pasien mengekspresikan penurunan perasaan ansietas.
c. Mulai membuat keputusan untuk diri sendiri.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kecemasan atau ansietas adalah reaksi emosional terhadap penilaian individu yang subjektif,yang dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya.
Kecemasan atau ansietas adalah istilah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari yang menggambarkan keadaan khawatir,gelisah yang tidak menentu,takut,tidak tenteram,kadang-kadang disertai berbagai keluhan fisik.
Beberapa teori membagi ansietas menjadi empat tingkat :
a. Ansietas ringan
b. Ansietas sedang
c. Ansietas berat
d. Panik
Rentang respon ansietas atau kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladptif ,seperti terlihat pada gambar berikut.







B. Saran
Sebagai seorang perawat,kita harus benar-benar kritis dalam menghadapi kasus kecemasan yang terjadi dan kita harus mampu membedakan jenis-jenis kecemasan tersebut.


Daftar pustaka

Mallapiang.2003.keperawatan jiwa.Jakarta:EGC
Lynda juall carpenito dan moyet.2007.Buku saku diagnosis keperawatan.jakarta:EGC

0 komentar:

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar